Tulisan nonfiksi merupakan tulisan yang bersifat informatif, dibuat berdasarkan fakta dan data yang akurat dan valid mengenai suatu permasalahan tertentu. Tulisan nonfiksi tentu berbeda dengan tulisan fiksi. Kalau tulisan fiksi berisi imajinasi penulis maka tulisan nonfiksi berisi tulisan yang membutuhkan keakuratan dari penulisnya. Umumnya tulisan fiksi adalah sebuah imajinasi yang dituangkan oleh penulis sehingga membuat pembacanya larut ke dalam cerita tersebut, sedangkan tulisan nonfiksi berisi kejadian sebenarnya yang disampaikan menurut pendapat, opini, atau kajian penulis.
Jika mengamati lebih dalam, kita akan menemukan ciri-ciri tulisan nonfiksi yang khas dan berbeda dengan tulisan fiksi. Ciri-ciri tulisan nonfiksi adalah sebagai berikut:
1. Menggunakan Bahasa yang Formal atau Baku
Ciri pertama yang mudah diidentifikasi dari tulisan nonfiksi adalah penulisannya yang menggunakan bahasa formal. Hal ini pertama kali terlihat dari judulnya, yang tidak menggunakan bahasa gaul yang kekinian, tetapi bahasa yang sesuai dengan KBBI dan PUEBI.
2. Menggunakan Bahasa Denotatif
Denotatif adalah makna dengan pengertian objektif dan apa adanya. Maksudnya, tidak disertai dengan perasaan dan pemikiran tanpa menimbulkan nilai rasa tertentu. Apa yang ditulis dalam tulisan nonfiksi dengan bahasa denotatif berguna untuk menyampaikan informasi secara lengkap, to the point, dan tegas. Penggunaan bahasa denotatif ini adalah agar penulis bisa memberikan informasi kepada pembaca tanpa dibuat-buat.
3. Berisi Fakta dan Aktual
Tulisan nonfiksi dibuat berdasarkan fakta yang sesuai dengan data yang didapatkan melalui pengamatan atau penelitian. Isi tulisan pun bersifat faktual sehingga pembaca dapat memperoleh manfaat dari informasi yang diberikan.
Oleh karena tulisan nonfiksi menggunakan bahasa yang formal, penyampaiannya bisa menjadi kaku. Di sinilah peran penulis yang harus menyajikan informasi tanpa ada kesan kaku, sekalipun yang disampaikan adalah sebuah fakta. Bagaimana caranya agar tulisan nonfiksi tidak kaku?
1. Memilih ide tulisan yang kreatif
Kadang tema sama, tetapi sudut pandang yang disorot berbeda membuat suatu tulisan nonfiksi jadi lebih menarik. Hal ini bisa diawali dengan lebih kreatif saat menggali ide agar tidak sama dengan tulisan yang sudah ada meskipun pokok bahasannya tidak jauh berbeda.
2. Mengumpulkan Referensi Sebanyak-banyaknya
Dengan referensi yang berasal dari banyak sumber untuk suatu ide, bisa membuat tulisan lebih luwes, lebih dalam pembahasan dan analisisnya, serta lebih banyak fakta dan data yang bisa ditampilkan untuk melengkapi tulisan.
3. Membuat Konsep yang akan Ditulis
Setelah ide dan referensi terkumpul, selanjutnya adalah membuat konsep sebelum mulai menulis. Konsep ini menjadi pedoman saat menulis agar tulian bisa fokus dan tidak melebar ke mana-mana. Konsep bisa berisi pertanyaan-pertanyaan penting yang kemudian dijawab dengan uraian dalam tulisan nonfiksi yag dibuat. Tulisan kerap jadi kaku karena penulis tidak mengurutkan dengan tepat dan sistematis hal apa yang akan ditulis.
4. Memperhatikan Gaya Bahasa yang Baik
Setelah konsep dibuat, bisa mulai menulis dengan menggunakan gaya bahasa yang baik dan sesuai PUEBI. Penting sekali memperhatikan tata bahasa yang tepat, terlebih saat menjelaskan sesuatu yang bersifat ilmiah. Sebaiknya menggunakan kalimat yang mudah dipahami, tidak berbelit-belit, dan tidak mengulang-ulang kata atau kalimat. Bila harus menuliskan opini, sebaiknya ditulis dengan cara yang santun, tidak merendahkan pendapat atau opini orang lain, juga tidak mengandung SARA. Hal ini penting karena tulisan nonfiksi kerap menjadi dasar bagi penulis lain untuk menulis hal sejenis atau dijadikan referensi bagi penulis lain.
5. Menggunakan Data Pendukung yang Menarik
Barisan kalimat narasi dan deskripsi dalam tulisan nonfiksi menjadi lebih menarik dan tidak kaku, bila ditambahkan data pendukung yang melengkapi tulisan. Data pendukung itu bisa berupa foto, gambar, tabel, diagram, atau bahkan video yang sesuai dengan isi tulisan.
6. Membuat Judul yang Tepat
Judul adalah hal pertama yang dibaca penulis sebelum membaca seluruh isi tulisan nonfiksi, baik buku maupun artikel. Sebaiknya memilih judul yang menarik dan eye catching, mengundang rasa penasaran pembaca, tetapi tidak menipu. Maksudnya menipu adalah tidak membuat judul yang menarik atau bombastis, tetapi tidak sesuai dengan isinya, hanya agar pembaca tertarik.
7. Mengecek Ulang Tulisan
Setiap selesai menulis, sebaiknya membiasakan diri melakukan self editing agar tidak ada penulisan yang keliru, kaidah kebahasaan yang kurang tepat, atau ada yang masih bertele-tele dalam menjelaskan. Memastikan tulisan sesuai kaidah bisa membuat seorang penulis memiliki nilai tambah karena pengecekan itu salah satunya untuk menambah kualitas tulisan. Apalah artinya tulisan yang kritis, tajam analisisnya, hebat pembahasannya, tetapi tidak memperhatikan kaidah penulisan yang benar atau asal-asalan menuliskannya.
Demikian cara-cara yang bisa dilakukan penulis agar tulisan nonfiksi tidak kaku. Hal utama yang harus diperhatikan penulis nonfiksi adalah, bahwa menyajikan tulisan yang baik tidak saja dari isinya, sumbernya yang valid, dan data pendukungnya yang lengkap, tetapi yang tidak kalah penting adalah penyampaiannya yang tidak kaku. Kita bisa memulainya dengan konsisten berlatih dan membiasakan diri melakukan cara-cara seperti yang dituliskan di atas. Selamat mencoba.
Oleh: Tim Redaksi Dandelion Publisher 2022
