Cara Membuat Ending Cerita Fiksi

Ada banyak cara membuat sebuah buku fiksi jadi menarik. Pembaca terpikat pada banyak hal sebelum akhirnya memilih suatu buku. Ada yang karena cover-nya yang menarik, blurb-nya yang memikat, pilihan judulnya yang membuat penasaran, atau tema cerita yang unik dan tak biasa. Setiap orang memiliki ketertarikan sendiri-sendiri pada suatu buku tertentu. Namun, sebagai penulis, kita harus jeli membuat buku yang kita tulis menjadi buku yang menarik dari banyak segi, mulai cover hingga isinya.

Dari segi isinya, sebuah cerita fiksi disebut menarik bila ada opening yang memikat, pemilihan karakter tokoh yang unik, konflik yang baik, dan ending yang memuaskan rasa ingin tahu pembaca. Bagaimana membuat opening atau kalimat pembuka yang menarik, dibahas di judul lain. Tulisan kali ini akan membahas secara rinci pilihan-pilihan membuat ending yang menarik agar cerita fiksi kita berakhir manis.

Mengeksekusi sebuah ending dan mengemasnya menjadi menarik adalah hal yang mutlak harus dilakukan oleh penulis. Hal ini menjadi tanggung jawab penulis terhadap pembaca karena sudah masuk dalam cerita yang dibuat penulis. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menentukan sebuah ending cerita yang baik.
1. Memenuhi Prinsip Kausalitas
Memunculkan dan mengakhiri setiap adegan dalam suatu cerita tentu dilatarbelakangi hal yang logis. Sebab akibat dan konsekuensi dalam cerita harus dikedepankan agar pembaca bisa menerima dengan baik. Artinya, jika si tokoh melakukan sesuatu maka akibat atau konsekuensi logis yang ditimbulkan harus seperti apa itu harus yang logis.
2. Memperjelas Tujuan Tokoh Utama
Tujuan tokoh utama dalam suatu cerita haruslah jelas. Hal ini dilakukan untuk menjaga relevansi cerita dari awal hingga akhir. Sesuatu yang diinginkan atau dipikirkan si tokoh harus berdampak pada upaya apa yang dilakukan dalam memenuhi keinginan atau pikirannya.
3. Berkaitan Erat dengan Konflik Cerita
Ending yang dibuat hendaknya serealistis mungkin dan sesuai dengan konflik yang dibuat. Jadi, tidak selayaknya seorang penulis menulis ending yang melenceng atau keluar konflik.
4. Menyesuaikan Bangunan Cerita
Ending yang dibuat harus sesuai dengan bangunan cerita. Misalnya, tulisan tentang roman bisa dibuat sad ending, tetapi tulisan komedi/humor akan fatal kalau berakhir sad ending.
Oleh karena ending memiliki daya tarik yang kuat bagi pembaca saat menikmati sebuah buku fiksi, perlu kiranya dibuat ending yang memikat, mudah diingat, tidak klise, tetapi cukup realistis. Kalau Anda menulis cerita horor atau supranatural yang kadang tidak masuk akal maka sebaiknya Anda konsisten dari awal menyajikan hal-hal tidak logis yang menarik minat pembaca. Untuk itu, ada beberapa jenis ending yang bisa dipilih untuk mengakhiri cerita dan bisa dipelajari dengan mudah oleh penulis pemula sekalipun.
1. Resolve Ending (akhir yang terselesaikan)
Di akhir cerita, tidak ada lagi cabang plot atau konflik cerita yang harus diselesaikan. Semua sudah berakhir di titik terakhir cerita. Ending jenis ini juga disebut dengan close ending atau ending tertutup. Penulis menjelaskan sebab akibat dalam tulisannya sehingga tidak ada lagi yang dipertanyakan.
2. Unresolved Ending (akhir yang tak terselesaikan)
Di akhir cerita, masih ada misi atau konflik yang belum selesai. Umumnya digunakan untuk serial yang menghubungkan buku satu dengan buku yang terbit berikutnya. Ending jenis ini juga biasa disebut ambiguous ending atau open ending, yaitu jenis ending yang memberikan kesempatan pada pembaca untuk mengartikan sendiri kelanjutan cerita.
3. Circle Ending (akhir yang berputar)
Cerita berakhir di titik cerita dimulai. Cerita berputar seperti siklus yang berulang. Ending jenis ini membawa pembaca ke permulaan cerita kembali.
4. Unexpected Ending (akhir yang tak terduga)
Cerita tidak berakhir seperti yang diharapkan atau yang diduga oleh pembaca. Biasa disebut dengan twist ending, dengan ciri khas ada efek kejut yang membuat pembaca emosi atau tidak menduga bagaimana akhir suatu cerita.
5. Happy Ending (akhir yang menyenangkan)
Cerita dengan akhir yang menyenangkan paling banyak disuka pembaca karena membawa kepuasan tersendiri saat si tokoh berhasil meraih tujuannya. Namun, penulis harus membangun kekuatan lain, seperti konflik yang rumit, alur yang berat, karakter yang kuat agar pembaca ikut merasakan bahwa akhir yang menyenangkan itu diperoleh si tokoh dengan perjuangan.
6. Sad Ending (akhir yang menyedihkan)
Cerita dengan akhir memyedihkan umumnya berisi hal-hal yang mengandung keharuan dan tangis, seperti kematian, kehilangan, kegagalan, atau hal-hal lain yang tidak disukai. Cerita berakhir menyedihkan pun bisa menjadi cerita berkesan baik, jika penulis meramu dengan kekuatan konflik dan alur yang baik.
Nah, setelah membaca uraian di atas, Anda bisa memilih, ending yang bagaimana yang cocok untuk cerita Anda.

Tinggalkan komentar