
Deskripsi
| Judul | Miitigasi Tanpa Roti dan Dasi |
| Penulis | Agus Sumarsono |
| ISBN | [Sedang dalam proses] |
| Harga | Rp 99.000,- |
| Dimensi | 14,5 x 20,5 cm |
| Berat | 107 gr |
| QRBI | 1118-1023-0259 |
–o0o–
Sinopsis
Terinspirasi dari acara ulang tahun Mbah Rono–sebutan Dr. Surono–kepala Desa Kemplang yang bertajuk “Mitigasi Tanpa Roti dan Dasi”. Disela-sela ulang tahun beliau, ada acara pemaparan sosialisasi bencana kepada yang hadir. Inilah yang disebut mitigasi.
Bener banget, sosialiasi tidak harus dilaksanakan secara formal, berbagai tempat dan waktu dapat dimanfaatkan untuk berbagi ilmu kebaikan. Yaaa, mengikuti jejak wali-wali dan para ulama dulu, selalu “Menyampaikan walau satu ayat.” Menyampaikan kebaikan.
Kompensasi berupa honorarium, konsumsi, uang transport, spanduk dan foto-foto kegiatan untuk pertanggungjawaban dan publikasi tidak lagi penting. Hanya ada “semangat berjuang, demi panggilan kemanusiaan” sebagaimana lagu Mars Tangguh, yang selalu dinyayikan pada setiap acara pembukaan pelatihan, rapat koordinasi teknis ataupun kegiatan-kegiatan yang terkait dengan penanggulangan bencana.
Harus diakui “Mars Tangguh” penanggulangan bencana, syairnya menggugah hati, bangkitkan nyali siapa pun yang mendengar akan terpanggil untuk menyelamatkan nyawa manusia, tanpa berharap pamrih, tak minta dipuji ataupun interest untuk menjadi terkenal.
Masih adakah orang-orang seperti Mbah Rono? Orang-orang yang pantang putus asa, optimis, layaknya sales asuransi atau kartu kredit. Mengejar, memburu, merayu setiap orang yang ditemuinya.
Adakah orang yang setiap saat menyediakan diri untuk berbagi ilmu agar “selamat dari bencana” kepada orang dari berbagai kalangan mulai majelis taklim, karang taruna, anak-anak sekolah, pemuda-pemuda gereja, dan siapa pun yang ditemuinya.
Tak kenal siang dan malam, pagi ataupun petang, di pasar, di pinggir jalan, di pemukiman kumuh ataupun real estate kaum elite. Kapan pun, di mana pun senantiasa mengajarkan kepada yang belum tahu, menyadarkan bagi yang tersesat, dan mengingatkan kepada yang merasa pintar untuk selamat dari bencana.
“Caranya bagaimana?” aaah, jangan begitu, bukankah Anda selalu bertanya kepada siapa pun, “Apakah berkas-berkas penting Anda sudah diletakkan dalam satu tempat?” pasti mereka menjawab. “Untuk apa?” supaya tidak repot kalau ada musibah atau bencana yang datang secara tiba-tiba.
Banyak cara untuk menyelamatkan orang lain dengan berbagi ilmu “selamat” dari bencana, tidak harus ada anggaran yang tertuang dalam DPA agar tidak berurusan dengan KPK. Sosialiasi kegiatan “Itu” dan “Anu”, yang harus ada kata sambutan pada acara pembukaan dan penutupan.
Tidak perlu menyiapkan daftar honor atau membuat orang lain sibuk menyuguhi anda dengan kue-kue. Bukankah anda juga tidak pernah mengambil gambar, lalu update status agar semua orang tahu kalau anda telah berbagi ilmu. Kenapa begitu? Karena anda tidak peduli apakah orang lain tahu atau tidak pada apa yang telah anda lakukan, anda hanya peduli bagaimana agar banyak orang tahu cara selamat dari bencana.
–o0o–
Bagi yang berminat membeli bukunya
silahkan hubungi kontak berikut ini:
0812-6111-765 (WA Admin 1)
0812-6111-295 (WA Admin 2)
