The Pluviophile

Deskripsi

JudulThe Pluviophile
PenulisHenny | Yoss Prabu | Yudha Kurniawan
Fadhilah Qinan | Dewi Hastuti | Melly W | Puspita Sari
Atma Baswara | A. Furqon | Abustan | Lukas Jono | Farisa Mardianti
Dea Sunaryo | Amanda Christabelle | Edief Wangi
Neneng Tuti Yuniarti | Izzie Ska
Dimensi14,5 x 20,5 cm
Berat100 gr
DPBN1118-1223-0317-2

–o0o–

Sinopsis

Mungkin malam ini kita akan terasa dingin dengan gerimis yang luruh menemani tetapi asal bersama kamu, semuanya akan baik-baik saja. (Kutunggu di Braga – Henny)
Hujan masih menderas. Seiring membanjirinya air mata perempuan 65-an itu. Maknya Niek. ( Namanya, Niek – Yoss Prabu)
Jendelaku masih basah dari terpaan titik sisa hujan di ujung senja itu. Membiarkan perasaan yang gundah semakin liar. (Aku, Rindu Hujan di Ujung Senja – Yudha Kurniawan)
“Apa kau tahu bagaimana cara menyatukan hujan?” tanyanya dengan ekspresi bosan ( Cerita Awan – Fadhilah Qinan)
Tia memandang curah hujan yang menari-nari seolah tengah menyuguhkan ribuan kenangan yang tertoreh. (Selembar Daun yang Jatuh – Dewi Hastuti)
Hujan adalah rahmat Allah, bukan penyebab bencana (Melukis Senja – Melly W)
Aku menangis di pagi berhujan kedua belas setelah kepergianmu. (Rain di Balik Jendela – Puspita Sari)
Di tengah-tengah perjalanan terdengar suara benturan seperti tabrakan. Keadaan di luar tidak begitu jelas, terhalang kabut. (Hujan Mengingatkanku Padamu – Atma Baswara)
“Ternyata hujan itu indah. Irama air hujan bisa membuatku tenang.” (Duo Doa – A. Furqon)
Suara dari gemuruh hujan itu menembus bilik jiwa, membuat tubuh bergetar dan mata basah tanpa terasa. (Lautan Korupsi di Negeriku Tak Terbendung – Abustan)
Hujan adalah rahmat bagi siapa pun yang percaya akan takdir Tuhan. (Labirin The Rain – Lukas Jono)
Iya tak menyangka bahwa hujan yang mempertemukan mereka. (Kutemukan Cinta di Sela Hujan – Farisa Mardianti)
Hujan masih tetap merintik. Rinainya bak berlian yang berjatuhan di atas dedaunan. (Pelangi Selepas Hujan – Karya Bersama)
Semesta menghitam, petir menyambar bersahutan menyambut pagi. Mengusik Rinai dalam mimpinya bersama Langit. ( Rinai Hujan – Dea Sunaryo)
Mereka melepas kerinduan di tengah hujan malam itu. (Senandung Hujan – Edief Wangi)
Hujan yang turun di luar ternyata memberi kabar duka di asrama. (Takdir – Neneng Tuti Yuniarti)
Rinai itu merintik lagi dengan terpaan angin yang memburu. Aku menggigil berdiri di halte bus seperti biasa menunggu. (Awan Berselimut Duka – Melly W)

–o0o–

Bagi yang berminat membeli bukunya
silahkan hubungi kontak berikut ini:
0812-6111-765 (WA Admin 1)
0812-6111-295 (WA Admin 2)

Tinggalkan komentar