Tauhid dan Syirik

Deskripsi

JudulTauhid dan Syirik
Tak Pernah Berkompromi dan Retak yang Tak Terlihat
PenulisUmmu Muhammad | Lies Hendrawan | Ramdani Ijudin bin Aceng Halimi
Bangkit Adi Swasono | Bangkit AS Ilmi Akbar | Bangkit As, W.Y.I Al Baits
Bangkit As Ilmi Zahra | Dwi Farianna | Ahmad Sauki | Lila Yekti Purnasiwi
Ria Puspita | Mas’ud Ruga Idris | Utrujah Alesha | Maria Ulfah | Tris Mayeni
Dimensi14,5 x 20,5 cm
Berat189 gr
DPBN1118-0126-0653-6

–o0o–

Sinopsis

Tamimah adalah istilah dari bahasa arab bentuk jamaknya adalah tama’im yaitu sesuatu yang digantungkan di leher atau pada suatu tempat berupa mantra-mantra, kantong berjahit, rajah atau tulang dan yang lainya, dengan tujuan untuk menolak musibah dan menolak ‘ain (penyakit yang disebabkan karena pandangan mata). Sering dijumpai benda-benda yang digantungkan di rumah, mobil, toko atau di pakaian anak disebut dengan jimat atau sebagai penangkal. Semua itu termasuk jenis tamimah yang hukumnya haram dan syirik.
Tiwalah adalah sesuatu yang dibuat untuk membuat seseorang mencintai dirinya. Contoh seperti susuk, pelet, jimat, dan bulu perindu/pemikat hati.
Tathayyur disebut juga thiyarah adalah beranggapan sial atau beruntung dengan waktu dan tempat tertentu atau sesuatu yang dilihat, didengar atau diketahui. Misalnya konsultasi dengan orang pintar untuk menentukan hari pernikahan dengan keyakinan akan mendatangkan keberuntungan dan menjauhkan kesialan, akan sial karena gelas pecah atau kejatuhan cicak.
Dalam perjalanan sejarah manusia, syirik hadir karena pengaruh dari budaya pagan di antaranya politeisme (banyak Tuhan), panteisme (personifikasi Tuhan pada makhluk); animisme (penyembahan terhadap roh atau orang yang sudah mati); dan dinamisme (kekuatan pada setiap benda-benda seperti azimat) yang terus dipertahankan.
Ibarat berjalan dalam kegelapan tanpa secercah lentera, demikian pula dengan warisan. Ketika ilmu tidak di genggaman, rasa dan nafsu yang jadi pedoman hancurlah segala tatanan. Kericuhan, perebutan, dan perpecahan akan menjalari sebuah kedamaian aturan semesta. Mengabaikan bahkan melecehkan ketentuan Allah Subhanahu wa taala dalam membagi warisan seenak dan sesuai keinginan insan. Nauzubillahi min dzalik.
Semua dikupas dalam buku Tauhid dan Syirik “Tak Pernah Berkompromi dan Retak yang Tak Terlihat”. Bagaimana kita menyikapinya? Silakan baca bukunya!
Salam Membumikan Literasi di Ibu Pertiwi!

–o0o–

Bagi yang berminat membeli
bukunya silahkan hubungi
kontak berikut ini:
0812-6111-765 (WA Admin 1)
0812-6111-295 (WA Admin 2)

Tinggalkan komentar